Dikhawatirkan akan punah, UPT Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulteng Gelar Lomba Debat Bahasa Kaili dan Puisi Bahasa Kaili

Kareba Sulteng News ~ Palu, Bertepatan dengan Hari Guru Nasional dan Hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) UPT Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah menggelar kegiatan Lomba Debat Berbahasa Kaili tingkat SMA/SMK/MA dan Lomba Puisi Berbahasa Kaili tingkat Guru TK/PAUD bertempat di Museum Provinsi Sulawesi Tengah jalan kemiri, kelurahan kamonji, kecamatan palu barat, Kota Palu (kamis, 25/11/2021).

Iksam Jeremi selaku ketua panitia kegiatan mengatakan kegiatan ini merupakan suatu media untuk melihat bagaimana kemampuan generasi muda mencintai bahasa kaili dengan melakukan dialog dalam berbahasa kaili.

“kedepannya perlu peningkatan kemampuan berbahasa kaili bagi generasi muda kalau tidak bahasa kaili bisa punah”.tutur iksam

Berbeda halnya di pulau jawa, di Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu sudah jarang terdengar masyarakat berdialog menggunakan bahasa kaili, generasi muda sepertinya gengsi menggunakan bahasa kaili walaupun mereka keturunan asli suku kaili. Hal ini lah yang dikhawatirkan akan membuat budaya dan bahasa kaili akan punah 10 atau 20 tahun kedepan.

Salah satu juri yang tidak asing lagi di Kota Palu sekaligus putera daerah Sulawesi Tengah Bapak H.Hamzah Rudji yang dijumpai tim Kareba Sulteng mengapresiasi kegiatan seperti ini dan berharap kegiatan seperti ini harus dilakukan terus-menerus setiap tahun dan Guru-guru muatan lokal Bahasa di sekolah-sekolah harus dilatih agar murid-murid yang diajar nantinya lebih terampil lagi.

Hamzah Rudji mengatakan “kalau ada anggaran Pemda, harus lakukan pelatihan khusus Guru Bahasa Kaili yang memiliki tutur bahasa kaili. Jangan nanti Guru yang tuturnya bahasa bugis, bahasa jawa, bahasa padang, dll dilatih bahasa kaili, biar 1 bulan ikut pelatihan tidak akan bisa. Tapi kalau tuturnya bahasa kaili memang ditambah pelatihan, itu yang terbaik nantinya”

Suaip Djafar selaku juri juga mengatakan “ini tidak bisa berhenti, kegiatan seperti ini harus berlanjut diikuti dengan pelatihan-pelatihan agar supaya memahami makna filosofi masyarakat kaili dan melestarikan kebudayaan di sulawesi tengah”

“Kedepannya Pemda harus membuat pelatihan-pelatihan buat Guru-Guru muatan lokal khususnya tingkat SD, SMP, dan SMA” tutup Suaip Djafar.

 

 

Penulis  Roy

Editor : Aifan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *