18 tahun tinggal di TPA tanpa Listrik, Bagaimana Cara Belajar Anak-anak Disana

Kareba Sulteng News – Palu, masyarakat Kelurahan Kawatuna tepatnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) POI PANDA KAWATUNA mengeluhkan Penerangan yang hingga saat ini belum juga terealisasi oleh janji-janji Politik para Calon Kandidat. Mayoritas masyarakat yang bermukim di TPA adalah para buruh kasar dan Pemulung yang hingga saat ini belum juga mendapatkan aliran listrik.

Tim Kareba Sulteng bersama Relawan Peduli Pendidikan dari Surya Nenggala meninjau lokasi (Minggu,12/07/2020) disambut penuh gembira oleh anak-anak disana, seperti biasanya, Relawan Peduli Pendidikan dari Surya Nenggala rutin mengajar setiap hari minggu disana.

Dijumpai di lokasi “Ima” yang ditunjuk oleh warga setempat sebagai Koordinator mengatakan kepada Tim Kareba Sulteng “saya disini baru 7 Tahun, ada warga yang lebih lama dari saya seperti Pak Samon sudah lebih 18 Tahun disini, ada juga Pak Mawardi yang hampir 18 Tahun. Dan seperti anda lihat sendiri, disini belum ada Listrik masuk”

Aktifitas warga yang bermukim di TPA terhenti bila sudah memasuki magrib, suasana menjadi gelap gulita, hanya suara serangga yang terdengar ditelinga. Anak-anak mereka tak ada yang terlihat belajar, semua berkumpul dalam satu ruangan sempit dan mulai berbaring.

 

Beginilah rutininas keseharian mereka bila sudah memasuki magrib. Hal inilah yang memanggil jiwa Para Relawan Pendidikan untuk terjun kelokasi dan mengajar anak-anak disana.

Merlin salah satu Relawan Peduli Pendidikan dari Surya Nenggala menuturkan “kami kasihan melihat anak-anak mereka, disaat kita terkena Dampak Covid-19 yang harus diliburkan Sekolah, tak ada waktu belajar buat mereka apa lagi harus online. Pemerintah harus cepat, tepat mengambil sikap agar mereka dapat bersekolah atau belajar walau hanya di rumah”

“Bagai mana mau belajar di rumah, Penerangan saja tidak ada, HP android pun juga tidak, dari mana mereka harus mendapatkan sumber ilmu kalau bukan di Sekolah”. Lanjut Merlin.

Hendro salah satu warga yang tinggal di TPA mengatakan “kami tidak berharap banyak dari Pemerintah, cukup bantu kami dengan Listrik. Kami tidak butuh bantuan sembako, pakaian dll, yang kami butuhkan penerangan agar anak kami bisa belajar, membaca, dan lainnya”

Dengan mata yang berkaca-kaca Hendro melanjutkan “bukan saya mau sombong Pak, tidak perlu sembako kamu kasikan, kalau makan Alhamdulillah kami masih bisa walau 1 liter per hari. Yang kami butuhkan itu Listrik. Selama ini kami merasa seperi orang terpencil yang di dalam Hutan, tidak ada Penerangan walau zaman sudah maju seperti saat ini. Kami sangat ketinggalan informasi terutama informasi Pendidikan untuk anak-anak kami” tutup Hendro dengan mata berkaca.

Penulis : Roy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *