KETIGA KECAMATAN DI KAB. PARIMO, MENDAPAT KUNJUNGAN KEMENTRIAN PERTANIAN

Parigi Moutong – karebasultengnews.co.id Kunjungan kerja Kementan yang dilaksanakan selama dua hari di Parigi Moutong dengan kunjungan kerjanya di tiga titik yakni di Kecamatan Tinombo, Kecamatan Toribulu dan Kecamatan Parigi Selatan.
Kunjungan kerja dari Kementan sebanyak 12 orang pejabat yakni:

a. Staf Khusus Mentan Ir. H. Lutfi Halide MP,
b. Direktur Alsinta Ditjen PSP Andi Nur Alamsyah STP, MT,
c. Direktur Ditjen PSP Ir. Indah Megawati MP,
d. Kapuslat BPPSDMP Bustanul Arifin Cahya,
e. Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Edy Purnama SP, M.Sc,
f. Direktur Pembibitan Perkebunan Ditjen Perkebunan Dr. Ir. Saleh Muhtar MP,
g. Direktur Pembenihan Ditjen Holtikultura Sukarman,
h. Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Dr. Ir. M. Taufik Ratule MSi,
i. Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Bambang Sugiharto,
j. Kepala Karantina Palu Dra. Ida Bagus Hary Somawijaya,
k. Kepala BPTP Sulawesi Tengah Dr. Ir. Fery Fahrudin Munir M.Sc

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) drh. I Ketut Diarmita M.P. yang membidangi ternak dan sarang burung walet, dalam sambutanya menyampaikan kepada Kementan Propinsi Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Parigi Moutong agar meningkatkan populasi ternak. Hal ini sampaikannya saat mendampingi reses anggota DPR-RI H. Ahmad M Ali dari Partai NasDem.

Bahwasannya populasi ternak di Sulawesi Tengah khususnya Parigi Moutong sangat menjanjikan untuk rakyat. Maka ketika menjadi Peyangga Ibu Kota Negara baru salah satu pangan yang disuplay adalah ternak Sapi.

“Saya pertama masuk di tanah kaili, yang pertama saya makan adalah Kaledo atau kaki Sapi. Itu artinya masyarakat Sulawesi Tengah ini hobi sama makanan ternak atau daging sapi. Biasanya saya berpikir, dari mana semua bisa didapatkan kaki Sapi tersebut, dan bahkan setiap harinya terjual dalam bentuk Kaledo,” terangnya.

Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) drh. I Ketut Diarmita M.P, sekitar 2 tahun lagi semua orang akan beroperasi dari Jakarta ke Kalimantan untuk hijrah di Ibu Kota Negara baru, sehingga kata ia ini menjadi satu peluang besar untuk berinvestasi dalam hal menyuplai pangan dalam bentuk ternak.

“Sekang daging kita di Indonesia masih impor. Target pak Menteri diakhir Periodenya, beliau akan mengurangi impor menjadi Nol. Pertanyaanya dari mana kita memulainya? ya tentunya berdasarkan Kaledo tadi. Saya yakin Sulawesi Tengah menjadi potensi pengembangan ternak sapi yang terkuat di Indonesia,” imbuhnya.

Menurutnya juga untuk peyanggah ibu Kota Negara baru nanti, untuk Suplay ternak yang keluar dari Sulawesi Tengah bukan dalam bentuk ternak Sapi, Kambing atau Ayam, tetapi dikemas dalam bentuk daging. Karena itu, jika ternak Sapi yang dikirim ke Kalimantan Timur pasti banyak yang akan terjadi, bisa penurunan berat badan ternak, permainan harga dan lain lain, tetapi jika dalam bentuk daging pasti pengusutannya hampir dinyatakan tidak ada.

“Untuk peyanggah Ibu Kota nanti untuk suplay ternak yang keluar dari Sulawesi Tengah salah satunya adalah daging Sapi. Disini akan kita lakukan derisasi Industri. Tentu kita bertanya tanya uangnya dari mana untuk modal. Disinilah kita hadirkan kredit usaha rakyat yang hari ini kita putuskan 200 Milyar,” tuturnya.

Terkait Ternak Walet, ia mengatakan bahwa di Daerah Parigi Moutong pengirimnya ke Batam masih bersifat bahan baku sehingga harganya 16 sampai 18 juta. Tetapi jika dikemas dan dibersihkan dengan baik harganya bisa mencapai 30 bahkan 40 juta.

“Ini akan saya bicarakan dengan pak Ahmad Ali bersama pak Bupati dan Wakil Bupati, kita akan buat derisasi industri UMKM. Untuk itu kami siap mendukung apa yang menjadi program Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Parigi Moutong,”Tutupnya, Senin 13/01/2020 ( RISMAN )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *