KEMBALI, DRIVER PT. AMI (ASAMAX MINING INDONESIA) MOGOK KERJA

KarebaSulteng News.co.id~ MOROWALI UTARA :  Sebelumnya puluhan orang Karyawan PT.  Asiamax Mining Indonesia (AMI) yang berprofesi sebagai Driver atau Sopir Kendaraan Dump Truk telah melakukan protes dengan melakukan aksi mogok kerja, pada April 2018.
Kini, aksi protes yang sama kembali dilakukan di Kantor PT. AMI di Desa Mohoni Kecamatan Petasia Timur Kabupaten Morowali Utara (Morut) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu, 19 Mei 2018.
Pemicunya, tidak lain karena pihak PT. AMI yang kini tengah mengolah Ijin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Genba Multi Mineral itu diduga abai dengan hak-hak pekerjanya dengan sistem pengupahan dan waktu kerja yang disinyalir tidak sesuai undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.
Menerima informasi tentang aksi protes tersebut, Kapolsek Petasia Iptu Masiara langsung turun ke lokasi perusahaan dan menggelar pertemuan untuk memediasi persoalan antara pihak pekerja dan pihak perusahaan. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi kondusifitas situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kantimas) tetap terjaga.
Pertemuan yang dilaksanakan di Kantin perusahaan PT. AMI berlangsung selama kurang lebih satu jam dihadiri Hendri Manager HRD PT. AMI, Karyawan dan Babinsa Azis dengan menghasilkan keputusan bahwa akan kembali dilakukan pertemuan antara pihak perusahaan, karyawan, Dinas Ketenaga Kerjaan Morowali Utara, Camat Petasia Timur, Kapolsek Petasia, Danramil Petasia, Kades Lingkar Tambang di Kantor PT. AMI pada Senin, 21 Mei 2018.
“Jadi bagi karyawan yang akan melanjutkan mogok kerja dipersilahkan. Tetapi bagi karyawan yang ingin tetap bekerja diminta jangan pula dihalangi. Nanti hari senin kita bahas soal aspirasi teman-teman karyawan dengan menghadirkan dinas yang berkompeten serta berbagai pihak yang saya sudah sebutkan,” kata Kapolsek Petasia Iptu Masiara.
Sementara itu, Emanius Roga Wona salah seorang Driver DT PT. AMI kepada wartawan media ini usai pertemuan mediasi mengatakan, bahwa pihak Dinas Ketenaga Kerjaan Morut dinilai melakukan pembiaran terhadap perusahaan yang memberlakukan aturan sesuai keinginannya.
“Salah satu contoh sistem pengupahan dan sistem waktu kerja di PT. AMI, ini sudah diketahui oleb Nakertrans Morut. Bahkan, pernah kami sampaikan saat Anggota DPRD berkunjung di PT. AMI,” ujar Eman sapaan Driver PT. AMI.
Berdasarkan kesepakatan kerja antara pihak perusahaan yang disodorkan kepadanya, diketahui bahwa gaji pokok driver di perusahaan tambang tersebut hanya sebesar Rp 800.000 dengan upah perjam Rp 7000. Selebihnya, kebijakan perusahaan seperti tunjangan kehadiran sebesar Rp. 17.500 perhari, tunjangan kerajinan Rp. 195.000 perbulan dan tunjangan keahlian Rp. 300.000 perbulan.
“Ketentuan waktu kerja masuk dari jam 07:00 wita sampai 16:00 wita atau dengan kata lain 8 jam kerja perhari selama enam hari kerja yakni dari hari senin hingga sabtu,” jelas Eman yang dibenarkan oleh sejumlah karyawan PT. AMI lainnya. Belum lagi soal tunjangan, tambahnya,dan perbedaan perlakuan dilingkungan perusahaan. “Semoga pihak Nakertrans Morut dapat berpihak kepada karyawan dan menekankan pihak perusahaan mengikuti aturan tentang ketenagakerjaan,” imbuhnya.
Penulis : (Wardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *