UANG RECEH RP.100 DAN RP.200 BARU, MENJADI POLEMIK DIMASYARAKAT

Kareba Sulteng News ~ Palu – Bank Indonesia telah resmi meluncurkan Uang baru sejak Desember 2016 lalu, untuk pecahan kertas, mulai dari Rp.100.000 (gambar utama Ir Soekarno dan Moh.Hatta), Rp.50.000 (gambar utama Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp.20.000 (gambar utama G.S.S.J. Ratulangi), Rp.10.000 (gambar utama Frans Kaisiepo), Rp.5.000 (gambar utama K.H. Idham Chalid), Rp.2.000 (gambar utama Moh. Hoesni Thamrin), Rp.1.000 (gambar utama Tjut Meutia).

Sementara untuk pecahan logam, mulai dari Rp.1.000 (gambar utama I Gusti Ketut Pudja), Rp.500 (gambar utama Letjend TNI T.B. Simatupang), Rp.200 (gambar utama Tjiptomangunkusumo) dan Rp.100 (gambar utama Herman Johannes).

Selain logo palu arit, yang menjadi permasalahan masyarakat Sulawesi Tengah khususnya kota palu adalah peluncuran uang logam baru pecahan Rp.200 dan Rp.100. sedangkan di kios-kios dan warung-warung sudah tidak menerima uang logam pecahan Rp.200 dan Rp.100 untuk di edarkan.

Salah satu pemilik kios (Rani) menuturkan “awalnya kami masih menerima uang receh pecahan Rp.200 dan Rp.100, tetapi para pembeli sudah tidak mau menerima uang tersebut jika dikembalikan. Alasan para pembeli macam-macam, biasa kembaliannya mereka tukar dengan permen saja. Itu membuat pecahan receh ini malah bertumpuk dan tidak bisa dijadikan nilai tukar lagi”.

Lanjut Rani, “daripada uang receh itu cuman menumpuk di laci dan tidak dapat dijadikan nilai tukar, maka kami sudah tidak menerima uang receh pecahan Rp.200 dan Rp.100 itu lagi.

Dari pantauan karebasulteng.com ternyata bukan cuman kios milik Rani saja yang tidak menerima uang receh pecahan Rp.200 dan Rp.100. hampir seluruh kios yang berada di Kota Palu tidak menerima lagi pecahan receh tersebut. Bahkan di Pasar-pasar Induk pun sudah tidak menerima uang logam pecahan Rp.200 dan Rp.100 tersebut kecuali dipusat pembelanjaan seperti Swalayan-swalayan dan Supermarket.

Pertanyaan muncul dibenak masyarakat, untuk apa Bank Indonesia mengeluarkan uang logam baru pecahan Rp.200 dan Rp100 jika tidak dapat digunakan sebagai alat tukar ??? hanya membuang-buang anggaran saja.

Kurangnya sosialisasi dari pihak BI kepada masyarakat, sehingga membuat masyarakat mulai meninggalkan uang pecahan dengan nominal tersebut (Rp.100 & Rp.200). Masyarakat cenderung menggunakan uang koin Rp.500 dan Rp.1000 untuk bertransaksi jual beli.

 

Penulis : AR

Editor : DW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *